
Kita suka percaya bahawa apa yang kita fikir lahir daripada pertimbangan yang rasional.
Kita melihat sesuatu, menilai, lalu membuat keputusan.
Nampak mudah. Nampak kemas. Seolah-olah akal kita bekerja seperti hakim yang tenang, tidak memihak, dan hanya tunduk kepada bukti.
Namun manusia tidak berfikir semurni itu.
Sering kali, kita tidak melihat dunia sebagaimana adanya. Kita melihatnya sebagaimana diri kita telah dibentuk untuk melihatnya.
Pengalaman lalu, emosi semasa, kepercayaan yang telah lama berakar, cara kita dibesarkan, siapa yang kita senangi, dan siapa yang kita curigai — semuanya diam-diam masuk campur dalam cara kita menilai sesuatu.
Sebab itu fikiran kita tidak selalu adil.




